Once, I loved a song: I'm Yours...Jason Mraz..
then I played that song, over and over again. Berjam-jam malah..
Menemani saya menulis sampai pagi. Menemani saya saat menunggu dia menjemput saat hendak berangkat ke kantor..*gk tiap hari memang, kadang kalo pas dia pulang ke Solo, biasanya kalo sekolahannya lg huliday..hehe*
Menemani saya saat minum secangkir cokelat hangat di pagi hari, sebelum jam kantor.
I played that song..... over and over again.
Then I loved another song: Breaking My Heart, MLTR..
I did my habit, again. Memutarnya dalam notebook, memutarnya di henpon jadul saya... and yeah, asked my sister to play that song in her MP3 player, in my father's car. I did this.. over and over again...
Seolah tidak pernah bosan.
Seolah saya nggak punya cadangan lagu lain.
Seolah menganaktirikan lagu-lagu lain yang akhirnya terbengkalai kedinginan ..
Then there was another song: Big Girls Don't Cry, Fergie.
Masih sama. Masih mendengarkannya seolah candu.
Masih menikmatinya seolah saya bakal mati kalau nggak mendengarkannya, sekali aja dalam sehari.
Anytime-anywhere, selagi sempat dan bisa, that song filled my brain... :P
Saya memang perempuan aneh, yang mungkin bakal dicurigai memiliki kelainan karena terlampau kecanduan pada sesuatu.
Sebuah lagu... sehelai pakaian... sepasang sepatu dan sandal... satu pilihan kopi di sebuah kedai kopi tertentu... one colored lipstick... satu film drama romantis Hollywood... sebuah blog (see?)...and yeah...Lelaki :)
Seorang lelaki yang saya begitu mencanduinya sehingga saya lupa...kalau semua ini salah.
(Previous experiences has taught me not to fall for guy easily and let time works magically... satu hal lagi... don't be the only one who love him... but be loved by him, too)
In the middle of confusion, kenapa saya selalu mencandu sesuatu dan bukannya biasa-biasa saja, I began to question myself :
Would it be worse, if you turn yourself into a great someone else?
A girl who loves any different chocolate or ice cream...
A girl who will easily change her style...
A girl who thinks that this man she's dating is another ordinary guy for her...
A girl who listen to music without soul...
Hm..Guess!
I would rather to be me. And consider that my addiction...is a blessing.
Yeah...I am blessed to be a weirdo ...
it's me! Myself :)
15.7.09
Back Humz...*kapan yak*
Don't you just love being home?
Being at your own room; yang meskipun kayak kapal pecah, yang baju berserakan di mana-mana, terus banyak kabel-kabel yang terjulur di lantai *hidih, punya kamar berantakan koq hepii??! hehe*
tapi tetap saja.. it's your own room, it's your own bed, tempat kamu biasa menghabiskan waktu... every day!
Ah..Don't mind what I've said kalau kamu masih saja sibuk mencari-cari 'home' atau apalah namanya. Don't mind what I've said kalau kamu masih belum mendefinisikan what a home and how it could be called as home. Don't mind everything that I would like to say, ya..
Karena kamu tahu kenapa? I JUST LOVE BEING HOME...
Setelah 'perjalanan panjang' yang sangat melelahkan... it just feels great to live and breath in my home sweet home.. tempat melepas lelah tiap harinya itu.. tempat saya bertukar cerita dengan adik-adik,,
tempat saya berebut kamar mandi dengan mereka *hwaaa,, piss ya dekk*
tempat saya diem-diem menggoreng chicken nugget milik mereka karena saya kelaparan! :D
Dan pada akhirnya..
I'm glad, I'm home.
It ain't heaven, I know...
But for my super tired body tonite, it feels... just like it :)
*siap-siap mandi, lalu ngeblog lagi... hehehehe*
Being at your own room; yang meskipun kayak kapal pecah, yang baju berserakan di mana-mana, terus banyak kabel-kabel yang terjulur di lantai *hidih, punya kamar berantakan koq hepii??! hehe*
tapi tetap saja.. it's your own room, it's your own bed, tempat kamu biasa menghabiskan waktu... every day!
Ah..Don't mind what I've said kalau kamu masih saja sibuk mencari-cari 'home' atau apalah namanya. Don't mind what I've said kalau kamu masih belum mendefinisikan what a home and how it could be called as home. Don't mind everything that I would like to say, ya..
Karena kamu tahu kenapa? I JUST LOVE BEING HOME...
Setelah 'perjalanan panjang' yang sangat melelahkan... it just feels great to live and breath in my home sweet home.. tempat melepas lelah tiap harinya itu.. tempat saya bertukar cerita dengan adik-adik,,
tempat saya berebut kamar mandi dengan mereka *hwaaa,, piss ya dekk*
tempat saya diem-diem menggoreng chicken nugget milik mereka karena saya kelaparan! :D
Dan pada akhirnya..
I'm glad, I'm home.
It ain't heaven, I know...
But for my super tired body tonite, it feels... just like it :)
*siap-siap mandi, lalu ngeblog lagi... hehehehe*
13.7.09
*Aku suka ini... *
kalau dengan bahasa facebook, kemudian muncul jempol dan ada kata2 : Asta Hapsari menyukai ini. Hahaha ^.^
Dapatkah Anda dikatakan mencintai saya, jika Anda tergantung kepada saya?
"Saya menikmati kebersamaan dengan Anda bukan atas dasar ketergantungan. Yang benar-benar saya nikmati bukanlah diri Anda; yang saya nikmati adalah sesuatu yang lebih besar daripada diri saya dan diri Anda bersama-sama.Yang benar-benar saya nikmati adalah sesuatu yang saya temukan, semacam simfoni, seperti orkestra yang memainkan suatu melodi melalui kehadiran Anda. Tetapi bila suatu saat Anda pergi, orkestra itu tidak berhenti memainkan lagu. Bila saya bertemu dengan seseorang lain, orkestra itu akan memainkan melodi lain, yang juga sangat menyenangkan. Dan bila saya seorang diri, orkestra itu pun tetap memainkan lagu."
"Cinta sejati itu menyingkirkan rasa takut. Bila ada cinta, maka tidak ada keharusan, tidak ada tuntutan, tidak ada ketergantungan."
by Anthony de Mello
(,,se-mellow hatiku-kah? ;))...........)
Dapatkah Anda dikatakan mencintai saya, jika Anda tergantung kepada saya?
"Saya menikmati kebersamaan dengan Anda bukan atas dasar ketergantungan. Yang benar-benar saya nikmati bukanlah diri Anda; yang saya nikmati adalah sesuatu yang lebih besar daripada diri saya dan diri Anda bersama-sama.Yang benar-benar saya nikmati adalah sesuatu yang saya temukan, semacam simfoni, seperti orkestra yang memainkan suatu melodi melalui kehadiran Anda. Tetapi bila suatu saat Anda pergi, orkestra itu tidak berhenti memainkan lagu. Bila saya bertemu dengan seseorang lain, orkestra itu akan memainkan melodi lain, yang juga sangat menyenangkan. Dan bila saya seorang diri, orkestra itu pun tetap memainkan lagu."
"Cinta sejati itu menyingkirkan rasa takut. Bila ada cinta, maka tidak ada keharusan, tidak ada tuntutan, tidak ada ketergantungan."
by Anthony de Mello
(,,se-mellow hatiku-kah? ;))...........)
2.7.09
Enough-lahh......
Terkadang, saya teramat sangat benci dengan diri saya sendiri ketika saya terlalu 'available' dengan someone I do really like.
Whenever he calls... I pick up his call, like I would be dead if I don't...*halah..lebayy..*
Kalau dia mengirim SMS... saya akan segera membalas. I won't keep him wait.
Well, kecuali saya memang benar-benar nggak denger bunyi dering SMS, HP ketinggalan, atau saya sedang ngambek nggak jelas sama dia.
Kalau dia mengajak keluar... dinner, casual lunch, anything... saya tidak berpikir panjang untuk bilang 'iya'. Ok, a little drama at first, tapi ujung-ujungnya.. saya tetap bilang, "Okay. Kapan? Sekarang? Kamu jemput atau ketemu di sana?"
And I hate myself for being too available. Apalagi ketika saya melakukan apa yang dia lakukan, dia tidak se-excited saya saat menerima sms. dia nggak 'mati' kalau membiarkan telepon saya berdering..
dan dengan entengnya bilang, "hmm.. jangan sekarang deh... aku lagi sibuk..." ketika saya ingin ketemu.
Ouchh.. I hate it.
Saya nggak mau jadi perempuan yang terlalu available. I'm tired become one... for twenty five years *almost*
I think, that's enough.
Ya. I had enough.
Just enough.
Whenever he calls... I pick up his call, like I would be dead if I don't...*halah..lebayy..*
Kalau dia mengirim SMS... saya akan segera membalas. I won't keep him wait.
Well, kecuali saya memang benar-benar nggak denger bunyi dering SMS, HP ketinggalan, atau saya sedang ngambek nggak jelas sama dia.
Kalau dia mengajak keluar... dinner, casual lunch, anything... saya tidak berpikir panjang untuk bilang 'iya'. Ok, a little drama at first, tapi ujung-ujungnya.. saya tetap bilang, "Okay. Kapan? Sekarang? Kamu jemput atau ketemu di sana?"
And I hate myself for being too available. Apalagi ketika saya melakukan apa yang dia lakukan, dia tidak se-excited saya saat menerima sms. dia nggak 'mati' kalau membiarkan telepon saya berdering..
dan dengan entengnya bilang, "hmm.. jangan sekarang deh... aku lagi sibuk..." ketika saya ingin ketemu.
Ouchh.. I hate it.
Saya nggak mau jadi perempuan yang terlalu available. I'm tired become one... for twenty five years *almost*
I think, that's enough.
Ya. I had enough.
Just enough.
23.6.09
Sure... The One??
Kemarin sore, telpon2an dengan seorang teman dekat saya dan tiba2 dia bilang kalau dia sudah menemukan "the love of her life".
Ya, ya, ya. Pria yang menurutku *nggak banget ituu..* :(
Dia bilang, apapun yang telah terjadi, sesakit apapun luka yang dia rasakan sekarang, tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa cuman *pria yg gak banget* itu yang berhasil memiliki dia... body and soul, completely!
Hah! Lepas dari kebencian saya dengan cowok yang gebleg surebleg itu, saya tak bisa untuk tidak terkagum-kagum sama sobat saya yang satu ini. Bukan karena kerelaannya untuk sakit hati yang memungkinkan dia untuk menangis bombai again and again, tapi karena dia telah berhasil mendefinisikan seseorang sebagai The Love of Her Life; dan itu kan bukan hal yang gampang!
Bayangkan saja. Cinta dalam hidupnya. Ketika kita sudah memberikan gelar itu kepada seseorang lalu kemudian suatu saat nanti kita putus dan punya pacar baru... then what is he? The Love of My Life, the sequel? Kemudian putus lagi... apa jadinya? The Trilogy? Kalau sampai punya pacar sebanyak saya, gimana? *hidih, punya mantan banyak kok sombong sih, Taa... itu kan artinya kau gebleg aja pacaran bolak-balik tapi ga pernah berhasil nyeret mereka sampai ke depan penghulu! hehe*
Dan saya pun bilang padanya,
"Aku pernah sepertimu kan, Bu... yang dikit-dikit bilang, he's the one.. he's the one... sampai akhirnya aku sadar kalau cinta itu bukan kata yang sembarangan. Bahkan, menurut hematku nih ya, kata cinta itu bakal kehilangan maknanya kalau diucapkan tanpa hati dan perasaan.. yang diucapkan sambil lalu ketika buru-buru menyudahi telepon... the magic will be lost."
"He eh."
"Dan ini bikin aku sekarang mikir-mikir panjang dulu sebelum memvonis seseorang sebagai the love of my life..."
"He eh.. I know."
"I'd rather think that he's a great guy, instead of The One."
"Hm... iyah.."
"Kau tahu, kau ha-ah he-eh dari tadi... tapi benernya, kau ngerti maksudku, kan?"
"Kau mempertanyakan soal kenapa aku bilang Bapak Satu Itu as The One, kan? The Love of My Life, kan? kau kuatir aku sembarangan bilang gitu, kan? Kau kuatir karena kau tau banget, aku ini orang yang trauma sekali sama komitmen, kan?"
"Aku cuman khawatir kau terlalu membebani diri lo sendiri dengan label itu, Bu...."
"So?"
"Apa kau nggak gegabah untuk bilang kalau dia itu Your One?"
"Hey, aku pernah bilang kan, soal ada sesuatu yang sifatnya nggak bisa diterjemahkan dengan apapun kecuali dirasain sama hati?"...
yeah, been there. and still doing it! :)
Saya mengangguk. Pasrah aja. Pasti kalah deh, argumentasi saya.. :)
"He completed me, Ta. With anything that he did to me... he just completed me."
Saya terdiam.
Dan ketika saya sadar kalau 'sama dia aku merasa komplit'... di situlah saya tahu... laki-laki itu... is the love of my life. Dan nggak butuh kata-kata untuk menjelaskan ke banyak orang kenapa saya menganggapnya begitu, kan?
Detik itu juga, saya seolah tahu bagaimana rasanya menjadi orang bisu.
Saya..speechless !
*Sambil pikiran saya terbang kemana-mana... membayangkan... siapa yang bakal berduet dengan saya, menyanyikan lagu Finally Found Someone, di hari pernikahan kami berdua... di sebuah pesta kebun... my picture perfect of wedding party....*
Sok Romantis Mode : ON
And ON and ON and yeah...STILL ON..... :)
The one?
come in today,
come in my heart,
my soul...
will you??
Ya, ya, ya. Pria yang menurutku *nggak banget ituu..* :(
Dia bilang, apapun yang telah terjadi, sesakit apapun luka yang dia rasakan sekarang, tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa cuman *pria yg gak banget* itu yang berhasil memiliki dia... body and soul, completely!
Hah! Lepas dari kebencian saya dengan cowok yang gebleg surebleg itu, saya tak bisa untuk tidak terkagum-kagum sama sobat saya yang satu ini. Bukan karena kerelaannya untuk sakit hati yang memungkinkan dia untuk menangis bombai again and again, tapi karena dia telah berhasil mendefinisikan seseorang sebagai The Love of Her Life; dan itu kan bukan hal yang gampang!
Bayangkan saja. Cinta dalam hidupnya. Ketika kita sudah memberikan gelar itu kepada seseorang lalu kemudian suatu saat nanti kita putus dan punya pacar baru... then what is he? The Love of My Life, the sequel? Kemudian putus lagi... apa jadinya? The Trilogy? Kalau sampai punya pacar sebanyak saya, gimana? *hidih, punya mantan banyak kok sombong sih, Taa... itu kan artinya kau gebleg aja pacaran bolak-balik tapi ga pernah berhasil nyeret mereka sampai ke depan penghulu! hehe*
Dan saya pun bilang padanya,
"Aku pernah sepertimu kan, Bu... yang dikit-dikit bilang, he's the one.. he's the one... sampai akhirnya aku sadar kalau cinta itu bukan kata yang sembarangan. Bahkan, menurut hematku nih ya, kata cinta itu bakal kehilangan maknanya kalau diucapkan tanpa hati dan perasaan.. yang diucapkan sambil lalu ketika buru-buru menyudahi telepon... the magic will be lost."
"He eh."
"Dan ini bikin aku sekarang mikir-mikir panjang dulu sebelum memvonis seseorang sebagai the love of my life..."
"He eh.. I know."
"I'd rather think that he's a great guy, instead of The One."
"Hm... iyah.."
"Kau tahu, kau ha-ah he-eh dari tadi... tapi benernya, kau ngerti maksudku, kan?"
"Kau mempertanyakan soal kenapa aku bilang Bapak Satu Itu as The One, kan? The Love of My Life, kan? kau kuatir aku sembarangan bilang gitu, kan? Kau kuatir karena kau tau banget, aku ini orang yang trauma sekali sama komitmen, kan?"
"Aku cuman khawatir kau terlalu membebani diri lo sendiri dengan label itu, Bu...."
"So?"
"Apa kau nggak gegabah untuk bilang kalau dia itu Your One?"
"Hey, aku pernah bilang kan, soal ada sesuatu yang sifatnya nggak bisa diterjemahkan dengan apapun kecuali dirasain sama hati?"...
yeah, been there. and still doing it! :)
Saya mengangguk. Pasrah aja. Pasti kalah deh, argumentasi saya.. :)
"He completed me, Ta. With anything that he did to me... he just completed me."
Saya terdiam.
Dan ketika saya sadar kalau 'sama dia aku merasa komplit'... di situlah saya tahu... laki-laki itu... is the love of my life. Dan nggak butuh kata-kata untuk menjelaskan ke banyak orang kenapa saya menganggapnya begitu, kan?
Detik itu juga, saya seolah tahu bagaimana rasanya menjadi orang bisu.
Saya..speechless !
*Sambil pikiran saya terbang kemana-mana... membayangkan... siapa yang bakal berduet dengan saya, menyanyikan lagu Finally Found Someone, di hari pernikahan kami berdua... di sebuah pesta kebun... my picture perfect of wedding party....*
Sok Romantis Mode : ON
And ON and ON and yeah...STILL ON..... :)
The one?
come in today,
come in my heart,
my soul...
will you??
19.6.09
Stay. Leave. Live
Do you ever have a feeling that you wanted to go but you were so afraid to do so?
Seolah berharap pada keajaiban untuk mengetuk pintu dan berkata, "Hey, bahagia ini milikmu aja... jadi nikmati tanpa takut ada yang mengganggu, ya..."
When I know magic moments are rare.
When I know magic moments don't come as often as silly moments, my silly moments.
So, what's the point? Masih berharap pada bintang jatuh? Don't they have some kind of guidance to help them from falling over and over again to the earth? :)
Masih berharap pada keajaiban yang memang hanya terjadi ketika kita least expect it? When we spend most of the time expecting things to happen...Duh, duh.. ceracau yang nggak penting, di pukul satu pagi, yang tanpa niat apapun, tapi nggak bisa beranjak dari depan netbuk dan memilih untuk menutup layarnya.
Damn! Kenapa pikiran saya jadi nggak jelas begini ya?
*You! Yeah you! I'm talking about you! Bayangan itu!*
Sometimes... okay, most of the times, saya berpikir ini.
Should I stay... dengan kenyataan bahwa someday, bisa jadi saya sangat sangat menyesal.
Should I leave... dengan probabilitas bahwa someday, saya bisa sangat bahagia.
Should I just live the moment... kunyah perlahan, resapi sampai kenyang, nangis kalau butuh, ketawa kalau emang pingin ketawa...
I should live the moment, adalah pilihan yang tepat dan rasional, tapi bukan menjadi option ketika pagi ini tiba-tiba saya benci sekali dengan diri saya sendiri.
I'm almost 25 and I'm confused.
Help!
Seolah berharap pada keajaiban untuk mengetuk pintu dan berkata, "Hey, bahagia ini milikmu aja... jadi nikmati tanpa takut ada yang mengganggu, ya..."
When I know magic moments are rare.
When I know magic moments don't come as often as silly moments, my silly moments.
So, what's the point? Masih berharap pada bintang jatuh? Don't they have some kind of guidance to help them from falling over and over again to the earth? :)
Masih berharap pada keajaiban yang memang hanya terjadi ketika kita least expect it? When we spend most of the time expecting things to happen...Duh, duh.. ceracau yang nggak penting, di pukul satu pagi, yang tanpa niat apapun, tapi nggak bisa beranjak dari depan netbuk dan memilih untuk menutup layarnya.
Damn! Kenapa pikiran saya jadi nggak jelas begini ya?
*You! Yeah you! I'm talking about you! Bayangan itu!*
Sometimes... okay, most of the times, saya berpikir ini.
Should I stay... dengan kenyataan bahwa someday, bisa jadi saya sangat sangat menyesal.
Should I leave... dengan probabilitas bahwa someday, saya bisa sangat bahagia.
Should I just live the moment... kunyah perlahan, resapi sampai kenyang, nangis kalau butuh, ketawa kalau emang pingin ketawa...
I should live the moment, adalah pilihan yang tepat dan rasional, tapi bukan menjadi option ketika pagi ini tiba-tiba saya benci sekali dengan diri saya sendiri.
I'm almost 25 and I'm confused.
Help!
18.6.09
Yang dulu yang tak ada lagi..
Seorang teman saya sedang putus cinta..
Setidaknya itu yang saya tau dari postingan blognya..hmm..
Kesedihan itu dia tuangkan dalam beberapa baris kalimat saja lalu diakhiri dengan permintaan dukungan dari teman-teman blogger-nya, yang saling setia berkunjung untuk menyapa ... (atau mencela, barangkali? hehe).
Hus, ga boleh becanda.
(serius mode: ON)
Di situ dia bilang, haruskah dia menghapus semua cerita-cerita tentang kekasihnya, ketika mereka masih bersama? Kenangan-kenangan yang terjalin ketika mereka masih ketawa ketiwi, haha hehe bareng-bareng, sampai photo-photo mesra yang mereka abadikan saat mereka jalan-jalan berdua?
Tulisan-tulisan yang isinya I LAP YU SO MACH. Tulisan-tulisan yang saya yakin sekali bakal bikin hati teman saya itu makin berdarah-darah setiap membaca ulang satu persatu...
*Duhai para lelaki di dunia.. kenapa kalian sejahat itu sama kami, sih!* :)
Ketika dia bertanya, apakah dia harus menghapus semua kenangan itu dengan cara menghilangkan segala posting penuh cinta dari isi blognya, I couldn't help but wonder: apakah bisa segala kenangan itu akan otomatis hilang ketika kita menghapus sesuatu dalam satu click mouse saja? Bisakah semua keindahan yang pernah terangkai itu dapat hilang tak berbekas hanya bermodal satu click mouse?...dan semuanya bekerja seperti magic? Sihir? Ajaib?
Buat saya... jangan berharap segala keindahan bisa hilang dalam satu kedipan mata, dalam satu click mouse. Lain dengan prinsip mencabut cepat-cepat plester yang melekat di luka supaya sakitnya hanya terasa di awal tapi kemudian tidak lagi sakit, buat saya, melupakan seseorang tidak harus dalam waktu yang instan.
Deal with it, everyday.
Lupa, kalau memang lupa. Karena kalau kamu memaksa untuk melupakan seseorang, it's like keeping an old shirt in our cupboard. Ditumpuk sedemikian rupa dengan pakaian-pakaian yang baru... mencoba untuk tidak dipakai lagi...until someday you realize..that shirt... is still there......
So,delete? or not delete?
Hmm..Sweetheart..why don't you just... deal with it? Pelan-pelan saja..Because no one asks you to get rid of him in a blink of an eye...
Love ya.
Kiss kiss.
Hug hug.
Langgan:
Entri (Atom)