16.7.10

A Journey or A Decision?

Happiness,
is a journey or a decision?

Kebahagiaan memang menjadi impian tiap insan..
siapapun dia,
berasal dari kalangan dan kasta manapun.

tapi benarkah bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah tujuan?
tujuan yang hendak dicapai dan diraih?

I'm not sure.
Ya.

Loper koran langganan di rumah jogja, selalu datang pagi-pagi buta sambil mengayuh sepeda tuanya dan berteriak lantang, "koranipun Buuuuu...."
(kenapa ya tidak berteriak, "koranipun Pakkk..." hahaha, pasti karena yang sering mbayar korannya itu adalah Ibu saya, dan bukan Bapak saya. kurasa begitu ;) )
lalu Ibu saya tergopoh-gopoh berlari dari dapur menuju teras, dan bilang ke loper itu sambil bercanda, "walah..bengak-bengok mbrebegi kuping"
dijawabnya,"nyuwun sewu Bu, monggo medal, hawanipun segerrrr....sae kagem kesehatan"
Yang saya tau, dia bahagia mengerjakan pekerjaannya itu..
dengan senyum sapa yang sumringah, tak peduli dinginnya pagi itu..tapi semangat luar biasa yang harus saya tiru *mengingat saya kadang malas2an kalo disuruh bangun pagi dan pergi mandi..hahahaa*
Dia bahagia.

Mungkin dia tidak seperti kebanyakan orang yang menghargai kebahagiaan sebagai tujuan atas banyaknya materi, melimpahnya harta benda plus emas permata. But he's happy...
A happy 'loper koran', see ?

Di kantor, ada seorang anak tuna netra yang sering menawarkan hasil karyanya walau hanya sebuah sulak dan sapu. Bayangkan? berapa uang yang bisa ia dapat dengan hanya mengandalkan sebuah sulak dan sapu itu?
Saya kadang trenyuh melihatnya,
saya tidak membeli sapunya, tapi saya memberinya sedikit rupiah walau mungkin hanya cukup untuk naik bis dari kantor sampai ujung jalan sana.
Bila dia datang ke ruang saya, sering2 di'tanggap' oleh seorang rekan saya.
Ditanyainya, "nggak sekolah apa dek?"
jawabnya singkat,"mboten nate ngimpi saged sekolah pak"
lalu ditanyanya lagi, "lha bapak ibumu di mana?"
jawabnya, "nggih teng nggriya, ndamel sapu ngaten niki, nek mpun dados setunggal2 kulo sing mlampah nyade" (ya di rumah, bikin sapu seperti ini, kalo sudah jadi walau hanya satu2 lalu saya yang pergi menjualkan).
rekan saya bertanya lagi, " lha koq dudu bapake sing adol?"
dia bilang, " mboten, bapak ibu kula nggih wuta.. "
ditanyainya lagi," lha opo ora kepanasen awan2 ngene koq mider2?"
jawab bocah itu,"mboten napa2 pak, mung ngaten niki sagede kula, nggih kula lampahi remen2 mawon" (nggak apa2 pak, cuma begini yg saya bisa, ya saya jalani dengan senang saja)
"lha sedina bathi piro?"
"nggih sok mung telung ewu, pak"

Oh Tuhan..
Dia senang melakukannya.. dia bahagia...
walau panas menyengat,
walau dia harus datang dari satu pintu ke pintu yang lain hanya untuk bilang ,"tumbasi sapune bu..pak, niki sulake nggih wonten"
dan belum tentu ada yang tertarik dengan sapu dan sulak yang tampak biasa2 saja itu..
tapi anak itu luar biasa...
di tengah keterbatasannya, dia bisa berbuat sesuatu untuk orang tuanya..setidaknya begitu.
dan dia tidak mengeluh.
a w e s o m e...
saya harus belajar dari anak seperti ini...
dari semangatnya...
dari keterbatasannya...
dan kebahagiaannya melakukan hal 'melelahkan' itu...

sekarang tau kan?
kebahagiaan tidak melulu menjadi tujuan,
tapi sebuah perjalanan...
bagaimana kita bisa melalui perjalanan hari ke hari ini dengan bahagia,
meski berat,
meski sejuta aral melintang,
meski badai menghadang,
meski susah dan sedih datang.


I'm sure.
Happines is a journey.........

0 komentar: